Meniadakan Waktu Bebas

time_travel

Kenyataannya waktu tak pernah menunggu siapapun, tidak peduli ia kita manfaatkan atau kita sia-siakan. Saat kita kehilangan waktu maka semua sudah terlambat”.

Sebuah peribahasa Inggris mengatakan bahwa waktu laksana kikir yang terkikis tanpa suara. Begitulah yang ku rasakan satu bulan terakhir, aku merasa waktu berjalan terlalu cepat, entah karena rutinitas yang begitu padat atau memang karena sesuatu hal, hingga waktu seolah berlari meninggalkanku sedang aku berjalan terengah-engah untuk mengejarnya.

Kurang lebih sudah dua bulan ini aku bekerja sebagai sttaf pengajar di Rumah Cerdas Bondenza. Rutinitas mengajar baru dimulai pukul 10.00 sampai pukul 17.30, setiap pagi aku bangun di antara pukul 03.30-04.00, memulai hari dengan rutinitas beribadah, sebelum berangkat mengajar aku masih bisa  memasak untuk  bekal makan siang, mencuci dan membereskan kamar kosan, sepulang mengajar biasanya sudah pukul 18.00, setelah melaksanakan  kewajiban sebagai seorang muslim, aku disibukkan untuk menyiapkan makan malam dan membereskan beberapa pekerjaan yang masih belum selesai. Waktu bebas baru bisa dinikmati sekitar pukul 21.00, namun rasa lelah sering kali membuatku langsung jatuh terlelap ke alam mimpi, dan kemudian terbangun di pagi hari untuk memulai rutinitas yang sama, kecuali hari Minggu. Hari demi hari terasa monoton, satu bulan pertama aku masih bisa menikmati semua rutinitas itu, namun saat memasuki bulan kedua, rasa-rasanya ada sesuatu yang hilang. Hariku tiba-tiba terasa berlalu terlalu cepat, aku tidak merasa bosan, hanya saja rasa-rasanya terlalu sedikit hal bisa aku kerjakan dalam sehari. Rasanya hidupku belum cukup banyak bermanfaat.

Bulan kedua rasa-rasanya ada pola yang harus diubah, akhirnya aku memutuskan untuk meniadakan “waktu bebas”, sebab waktu terlalu berharga untuk disia-siakan. Dan dua minggu terakhir ini aku sudah berhasil melaksanakannya, yaitu meniadakan kebabasan waktu bebas. Terinspirasi dari sebuah buku yang membuatku ingin memanfaatkan sebanyak mungkin waktu yang ku miliki. Sebab pada kenyataannya hal yang dimiliki oleh semua orang, bahkan  dimiliki oleh orang paling miskin sekalipun adalah waktu, dan waktu itu akan menghilang baik ia dimanfaatkan atau tidak. Nyatanya kita memang mempunyai waktu yang sama namun kita mempunyai perlakuan yang berbeda untuk setiap waktu yang kita miliki. Aku jadi teringat tentang pendapat Imam al-Hasan al-Basri, yang mengatakan:

Di awal setiap hari, berkumandang seruan

“Wahai anak Adam! Aku ini ciptaan baru dan saksi perbuatanmu. Maka manfaatkanlah aku karena bila aku melintas, aku tidak akan kembali lagi hingga hari Kebangkitan.”

Subhanallah setiap hari adalah ciptaan baru, kesempatan baru, kereta api baru. Kita semua akan menaiki kereta itu suka atau tidak. Apa yang kita lakukan di atas kereta api itu sepenuhnya terserah pada kita. (di sadur dari buku Satu Tiket ke Syurga).

Caraku meniadakan waktu bebas dalam dua minggu terakhir, adalah dengan menghilangkan segala kesia-siaan terhadap waktu, sebisa mungkin mengisi waktu kosong (waktu bebas) dengan hal yang bermanfaat. Pagi hari disela-sela memasak aku biasa listening bahasa Inggris, bisa rekaman materi les online, atau lagu berbahasa Inggris, sekedar untuk menambah kosa kata baru dan mencari makna kata baru.

Selepas makan siang, biasanya aku beristirahat sambil mencari bahan materi untuk mengajar jam berikutnya, sore hari disela-sela menyiapkan makan malam, aku bisa bertukar kabar dengan ibu atau kakak, sebab rasanya sudah terlalu lama aku meninggalkan kedua orang tuaku (sejak SMA-sekarang), dan selama ini aku merasa tidak pernah melakukan apapun untuk mereka, cenderung kurang perhatian pada mereka, rasanya aku terlalu sering mengabaikan mereka, jarang menemani mereka, sekalipun mereka tak pernah mengeluhkan hal itu.

Awalnya ibu merasa aneh dengan tingkahku yang tiba-tiba rajin menghubungi beliau, namun sekarang sudah terbiasa, ku siapkan waktu khusus sepulang kerja untuk bercerita panjang lebar dengan beliau. Mungkin sekarang mereka pasti lebih kesepian dari pada dulu, karena kakak yang dulu hanya tinggal di Jogja dan bisa sekali-kali pulang pergi, sekarang merantau ke tempat yang bahkan lebih jauh dariku, sedang adik memilih sekolah lamaku yang mengharuskan kos. Setiap membayangkan mereka hanya makan berdua, nonton tv berdua, rasanya sedih, membayangkan rumah yang lengang dan sepi. Apalagi saat ayah sedang pergi dan ibu hanya seorang diri, ingin sekali pulang menemani beliau. Pernah suatu ketika aku bertanya apakah ibu sudah makan, dan beliau hanya menjawab, belum makan karena tidak ada yang menemani makan, ingin menangis rasanya sebab aku pun begitu, sama seperti beliau, tak pernah suka jika harus makan sendiri, rasanya lebih baik makananku habis dimakan beramai-ramai dari pada harus makan banyak tapi seorang diri. Aku tidak suka kesepian, dan aku tak ingin membuat mereka kesepian, setidaknya harus ada waktuku untuk mereka, dalam 24 jam waktuku, ada hak mereka yang harus ku berikan. Sudah 24 tahun berlalu, dan selama ini belum banyak hal yang bisa ku lakukan untuk mereka, kadang merasa sedih karena terus-menerus jauh meninggalkan mereka. Semoga mereka selalu dalam lindungan Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Hal lain yang ku lakukan untuk menghilangkan waktu bebasku, adalah dengan menggeser jam tidur, rasanya sayang sekali jika waktuku hanya berlalu untuk tidur. Dua minggu terakhir aku lebih sering tidur di atas jam 24.00, bahkan pernah tidur hampir jam 02.30 dan kemudian terbangun dikala subuh berkumandang. Ku sediakan 4 jam untuk tidurku dan itu pun sudah cukup untukku. Rasa lelah itu ternyata hanya sugesti dari diriku sendiri yang ingin mengeluh dan bermanja-manja serta meratapi keadaan. Dan kini ketika rasa lelah bisa terabaikan,  aku punya banyak waktu di malam hari, untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya tak pernah bisa aku lakukan. Dalam satu malam minimal aku membaca 1-2 buku, dengan jumlah halaman yang bervariasi, ada yang 35, 50,75, 80 dan bahkan ada yang 202 halaman. Salah satu sifatku adalah tidak bisa menahan rasa penasaran, jadi sebisa mungkin aku akan berusaha menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Aku tidak suka menyimpan sesuatu untuk besok, karena rasa penasaran bisa membuatku tidak bisa tidur sepanjang malam. Sifat yang sebenarnya sangat mengganggu.

Dulu aku bukan hanya gila buku, tapi juga sangat suka dengan drama korea yang episodenya berpuluh-puluh, dan tentunya semua episode itu selesai dalam waktu satu malam, terjaga sepanjang malam hingga pagi lebih tepatnya. Lucu bukan kebiasaan anehku, untuk sekarang aku menghindari drama korea, karena jika sudah mulai akan sulit berhentinya, jadi lebih baik terfokus pada buku yang jelas lebih bermanfaat dan tidak menguras waktu sebanyak drama korea yang kurang bermanfaat.

Jenis buku yang ku baca bervariasi, ada yang tentang pengembangan diri, materi liqo, sejarah, fiksi sejarah, novel terjemahan, novel teenlet, kumpulan cerpen, belajar bahasa jepang (yang ini dengan audio juga). Dan kalau kehabisan buku atau sedang bosan membaca, aku akan berkreasi dengan jariku, membuat tulisan-tulisan abstrak, seperti yang sekarang sedang ku tulis. Dalam dua minggu ini mungkin sudah ada 10 karya dari jari-jariku yang menari-nari di atas keyboard. Sebagian ku publis lewat sosial media seperti blogger, tumblr, wordpress dll, sebagian lagi aku simpan saja sebagai arsip pribadi. Ada kalanya menulis hanya untuk sekedar mencurahkan apa yang melayang-layang di otak dan sekedar membekukan kenangan yang mungkin suatu saat akan menghilang.

Agaknya malam sudah terlalu larut untuk melanjutkan menulis lagi. Inti dari tulisan ini adalah bagimana kita menikmati setiap waktu yang kita miliki. Membuat waktu bebas menjadi tidak bebas, mengubah lamunan menjadi muhasabah dan renungan, membuat kosong menjadi isi, membuat yang santai jadi bermakna. Dan tentunya membuat hari ini lebih baik dari kemarin, sebab waktu yang kita miliki akan senantiasa berlari meninggalkan kita dengan berlari. Rasanya ingin bangun lebih awal dan terlelap lebih malam, agar waktu yang ku miliki tak cepat menghilang. Takutku saat esok tak akan ada lagi kesempatan untuk memiliki lebih banyak waktu, maka menghargai waktu yang ada sekarang adalah keharusan. Lakukan yang terbaik hari ini dan untuk saat ini, berhenti menyesali hari kemarin, dan mengkhawatirkan hari esok.

Sebagai penutup

Nasihat Hasan Al Bana

“Waktu yang kita miliki seumpama kotak yang penuh batasan, sedang amanah yang kita miliki seumpama garis lurus yang tak berujung”

Rasulullah pernah bersabda, “ Ada dua karunia yang sering melenakan banyak orang, yaitu kesehatan dan waktu luang untuk berbuat kebaikan”. (HR Bukhori)

Pada detak jam yang terus berdetak

Ku kejar waktu dengan terengah

Meski ku merintih, ia tetap berlari

Meski ku tertatih, ia tetap meninggalkan

Pada matahari yang tersenyum di bagi buta

Ia sapa semua orang, dengan semangat

Dengan harapan seindah kuncup merekah

Aku datang untuk memulai hari yang baru

Pada pelangi yang penuh warna

Menawarkan pesona dan keindahan

Bahagialah untuk hari ini yang penuh berkah

Tersenyumlah karena aku masih disini “waktuku”

See you

Bogor, 211015 : 00.24

Advertisements
Categories: Uncategorized | 6 Comments

Alangkah Lucunya Negri Ini

Kenyataannya aku hanya bisa diam terpaku menatapnya. Hatiku begitu jengkel, darahku seolah naik keubun-ubun, dan emosiku seperti ingin meledak. Kenapa semuanya jadi begini, kenapa semuanya berubah seperti ini. Sajian di depan mataku seperti tontonan parodi lawak yang membosankan, ingin tertawa tapi tidak lucu sama sekali, ingin menangis tapi tidak tahu menangisi apa.  Pelan ku ucapkan istigfar berkali-kali, agar hatiku kembali tenang dan otakku berfikir jernih.

Alangkah lucunya negri yang ku cintai dan ku kagumi ini. Katanya tanah ini adalah tanah syurga yang gemah ripah loh jinawi, penuh dengan kekayaan alam hayati yang melimpah, bahkan kayu dan galah bisa jadi tanaman (katanya). Tapi nyatanya, hari ini kutemui anak-anak usia sekolah berjejer di pinggir jalan, tanpa seragam, tanpa sepatu, tanpa tas dan bahkan tanpa selembar buku. Mereka berlarian di antara mobil-mobil mewah yang tertahan lampu merah. Berbekal alat musik seadanya, mereka menyanyi dengan suara sumbang, hanya demi sekeping recehan . Hatiku tersenyum kecut mengingat isi UUD’45 pasal 34 (1) bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”.

Negriku oh negriku…. tak bisa aku menyalahkanmu tentunya, karena menyalahkanmu hanyalah kesia-siaan. Disinilah aku kembali pada bayangan masa-masa sulit ketika mengejar pendidikan hampir mustahil ku raih, dan sampai pada tahap inilah aku sadar bahwa perubahan tidak akan pernah terjadi hanya dengan menatap nanar semua kesedihan yang ada, berpangku tangan hanya akan tetap berpangku tangan, jika ia tak tergerak untuk merubah. Saatnya untuk menentukan apa yang harus aku kerjakan, apa yang harus aku berikan untuk negriku, untuk adik-adik kecilku yang mendambakan bangku pendidikan. Dan cita-cita besarku masih jauh dari gapai, cita-cita untuk melihat bahwa semua anak di negriku bisa menikmati pendidikan yang layak.

Negriku yang ku cintai, sampai sekarang aku masih mencintaimu, dan kelak akan lebih mencintaimu, apabila tanganku bisa berbuat sesuatu untukmu.

1821018

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Bahasa cinta terindah adalah Do’a

Suatu saat nanti kita akan mengerti….

Bagimana ayah dan ibu mendo’akan kita dari jauh, berharap agar anak-anaknya sukses dan bahagia

Bagaimana seorang kakak mendo’akan adiknya agar punya kehidupan yang lebih baik dari kehidupannya.

Suatu saat kita akan mengerti bahwa mereka jauh mencintai kita, melalui do’a yang tiada terputus, mereka sampaikan rasa cinta itu. Dan do’a mereka lebih dari cukup untukku, sebab cinta mereka bukan hanya sekedar ungkapan sayang.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Sajak Kecubung Rindu

siluet-jilbab1

Dia remang-remang

Dia diam

Dia rahasia

Dan dia temaram dibalik awan

Sajak kecubung

Rasanya memabukan

Membuat hati ingin melayang

Sejenak lupa akan khayalan

Hati hendak berjumpa

Tapi yang nampak izrail menyambut

Harap bahagia

Nyatanya sakit berulam jatung tertikam

Duh Gus…

Hentikan cinta sia-sia katanya

Buang rindu tak bertuan bisiknya

Lupakan angan tak tergapai ungkapnya

Duh Gus…

Apa guna kau raih ranting

Tat kala bulan jauh digapai

Apa guna kau rapat rindu

Jika sia-sia adalah fana

Adalah malam semakin larut

Sajak buaian daun kecubung

Menghilang jauh memeluk sepi

Hanya sejenak saja ia melayang

Meski hati berkalang kabut

Tetaplah malam akan berlalau pergi

Meski angin membelai manja

Tetaplah ia hanya menumpang lewat

Sajak kecubung…

Rindu hati hilanglah sudah

Segenggam angan kini melayang

Mimpi itu bangunlah sekarang

Gubahan

– SA-

Categories: Puisi | 3 Comments

Ku tunggu di simpang jalan

Kita awali di tempat dan waktu yang sama, dengan kendaraan yang sama dan menempuh jalan yang sama. Namun, pada akhirnya salah satu diantara kita ada yang turun lebih awal, ada yang ditengah perjalanan harus beralih ke kendaraan lain, ada yang sampai lebih dulu, tapi ada pula yang tertinggal dan begitulah tidak semua akan sampai pada waktu yang sama. Tapi yakinlah aku, kamu, dan dia punya cerita sendiri untuk setiap perjalanan yang kita lalui. Tidak ada satupun hal yang terjadi dalam hidup kita berlalu dengan sia-sia, ada hikmah yang Allah selipkan dalam setiap tahap yang kita lalui. Persimpangan itu, kerikil itu, duri itu, tanjakan dan turunan itu adalah warna yang memperindah keimanan kita (itupun jika kita mau mengambil pelajaran dan bersyukur).

Kita telah berjalan sedemikian jauh dan melalui begitu banyak hal, kita pernah merasakan jatuh kemudian bangkit, terjatuh lagi, bangkit lagi, bertahan, merangkak, kemudian tegak berdiri dan tersenyum. Kita pernah terpuruk, kita pernah hancur dan kita pun pernah manangis, tapi kita bisa bertahan dan berhasil untuk berjalan sejauh ini. Lantas akan kah kita menyerah dan berhenti pada pada titik ini? Siapkah kau bayar perjuangan dan lelahmu hanya dengan keputusasaan? Tega kah nuranimu, menghancurkan senyuman orang-orang yang terus mendo’akan dan menggantungkan harapan kepadamu? Atau bisakah hatimu mengabaikan orang-orang yang menunggumu untuk pulang? “Tidak” ku tegaskan “Tidak”, tidak akan ku biarkan aku dan dirimu menyerah pada titik ini, tak akan ku biarkan kita kalah disaat kemenangan telah didepan mata. Kita punya Allah, yang akan memberikan kemudahan dibalik setiap kesulitan. Kita punya Allah yang Maha Besar, kita punya Allah Maha Pengasih, kita punya Allah yang Maha Penyayang. Kita punya Allah yang kepada-Nya lah kembali semua perkara, solusi dari semua masalah kita. Yakinlah jika mereka bisa sampai di ujung jalan itu, maka kitapun akan sampai pada ujung jalan itu. Ujung jalan yang menjadi tujuan sementara kita, ujung jalan yang nantinya akan menjadi awal baru perjalanan kita. Ujung jalan yang akan menjadi tempat kita untuk menaiki kendaraan selanjutnya.

Banyak cerita yang belum selesai, bukan karena ditunda, tapi memang inilah proses yang harus dilaluinya. Biarlah semangat dan do’a menjadi senjata utama kita untuk bisa melalui jalan ini. Bialah semangat ini mengantarkan kita pada ikhiar terbaik, menghilangkan kegelisahan, kesedihan, kelemahan dan kemalasan, mengubahnya semuanya menjadi ketenangan,harapan dan keyakinan. Biarlah do’a ini menjadi pengetuk pintu-pintu langit, merintih dan mengadu pada Sang Khaliq, pasrah menghamba dan memohon ampun kepada-Nya, hingga semua dosa-dosa penghalang menyingkir dan melapangkan hati serta jalan kita.

Jika tak ada kendala, ku tunggu kau disimpang jalan, dan aku ingin kita bersama-sama menuju ujung jalan itu. Tidak peduli jika nanti kita akan berpisah ke kanan dan ke kiri, yang aku ingin kita sampai di ujung jalan itu.

Jika umurku panjang, ku tunggu kau di bulan Juni yang cerah. Bukan untuk setangkai bunga atau selembar kartu, tapi untuk bisa duduk berdampingan denganmulah yang kunanti. Sahabatku.

Go straight ahead, till the end of the road.

fall-autumn-forrest-wallpaper

Categories: Coret-coret | Leave a comment

Pelangi pertamaku

Suatu pagi, ayah mengajaku berjalan-jalan menyusuri jalan setapak disamping rumah. Hamparan sawah yang luas begitu memanjakan mata. Kicau burung bernyanyi merdu melantunkan lagu penyemangat pagi,sedang tetes embun menggantung di ujung dedaunan menyegarkan hari. Ku genggam erat tangan kokoh ayah, berjalan beriringan disampingnya, seraya berceloteh menanyakan banyak hal, tentang ini, tentang itu, tentang kenapa dan tentang bagaimana. Sampai seketika ayah terhenti dan memintaku menatap ke arah yang tengah beliau pandangi.

Ayah : “Lihat lah, indahnya ciptaan Allah ?” (menunjuk ke langit di atas hamparan sawah)
Aku :”Ayah itu apa? kenapa warnanya ada macam-macam?” (pertanyaan polos anak usia 6 tahun)
Ayah :”Itu namanya pelangi, indah bukan?”
Aku :”Pelangi? kenapa ada pelangi di pagi hari ayah?” (telunjuknya diletakan di dagu, matanya menerawang ke atas seolah tengah berfikir sangat serius, benar-benar gaya anak kecil)
Ayah :” Pelangi itu adalah hasil dari defraksi sinar monokromatik yang dibiaskan oleh tetes-tetes air hujan menjadi sinar polikramatik, dengan warna yang bermacam-macam”. (dengan tersenyum bangga ayah menjelaskan tentang pelangi dan teori sinarnya, entahlah benar atau salah teori itu)
Aku :” Ayah ayah aku tidak mengerti apa itu nomoromatik, defraksi, atau polikromatik”. (Wajah polosnya seketika terlihat serius, namun kemudian sekian detik berikutnya ia menampakan sederet giginya yang rapi seraya tersenyum lebar dan menatap ayahnya penuh tanya)
Ayah :”Hmmmm sebantar yah…” (menerawang sejenak menatap langit, mancari kata-kata yang mudah diterima gadis kecilnya yang polos)
Aku :”ayah ayah ayah ayo jawab, jangan diam saja” (tangan mungilnya menarik-narik ujung kemeja batik ayahnya)
Ayah :”Bagini sayang, kau tahu kan kalau semalam turun hujan, bahkan sampai subuh tadi pun masih hujan bukan. Karena ada hujan dan sinar matahari pagi maka terciptalah pelangi itu”. (dengan lembut ayah mengusap kepala putrinya yang tertutup jilbab kuning bergambar kupu-kupu)
Aku :”Karena ada hujan, jadi ada pelangi ayah?”
Ayah :” Iyah benar,tapi hujan saja tak cukup, harus ada sinar matahari sebagai sumber cahaya, baru bisa muncul pelangi”
Aku :”oh jadi perlu hujan dan sinar matahari barulah akan tercipta pelangi, yeh…” (wajahnya tersenyum girang)
Ayah : “Itu artinya, kamu tidak boleh takut menghadapi hujan, karena selepas hujan akan ada pelangi yang indah menyapamu”
Aku : “Siap ayah, aku tidak akan mengeluh ketika turun hujan, karena aku akan bahagia melihat pelangi setelah hujan turun”.
Ayah : ” Anggaplah hujan sebagai ujian yang harus kau hadapi, dan sinar matahari adalah harapan serta semangat yang kau miliki. Ketika kau mempunyai harapan dan semangat dalam menghadapi ujian, maka kelak akan kau dapati kebahagiaan seindah pelangi”.
Aku : “Oh oh oke….” (menanggapi seadanya kata-kata aneh yang disampaikan ayahnya, kemudian pandangannya kembali pada hamparan sawah dan pelangi yang menggantung diatasnya)
***
Mungkin dulu aku tidak terlalu mengerti apa maksud yang ayah sampaikan, tapi kini aku paham akan makna kehidupan yang ingin ayah tanamkan. Bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan kita harus berani melewati hujan yang dingin dan basah,dengan seberkas keyakinan dan kusungguhan dalam ikhtiar, maka akan kita dapati kebahagiaan sebagai jawaban akan janji Allah.
Hujan adalah rahmat yang Allah curahkan pada bumi ini, dan selepas hujan Allah akan kirimkan seberkas sinar mentari yang penuh kehangatan dengan hiasaan pelangi yang indah.
Hujan ada untuk dihadapi, bukan ditunggu mereda kemudian berlalu begitu saja. Nikmatilah tetesan-tetasan rahmat, dan setelah itu berbahagialah. Pelangi pertamaku mengajarkan bahwa akan ada pelangi-pelangi selanjutnya yang muncul selepas hujan.

Categories: Fiksi | 2 Comments

Wanita sebagai Istri yang Sholihah (Mar’ah Sholilah) #Part1

Ta’lim Al Iffah, 070215

#PraNikah_MenentukanPilihan

QS 3;114 (ciri manusia yang soleh)
1.beriman kepada Allah dan kepada Hari Akhir,
2. menyeru kepada yang ma’ruf dan menjauhkan dari yang mungkar
3.mereka selalu berlomba pada jalan yang terbaik di garda terdepan

Menjadi seorang istri yang sholihah tidak dapat terjadi dengan begitu saja, namun ada proses atau tahapan yang harus dipersiapkan sejak dini. Tahapan menjadi anak yang sholihah adalah modal penting untuk mempersiapkan diri seorang muslimah menjadi istri yang sholihah. Jika diibaratkan ingin memperoleh tanaman yang baik, maka saat akan menanam harus mempersiapakan atau memilih bibt yang baik dan bibit itu harus deberi asupan air dan unsur hara yang baik, agar kelak tumbuh menjadi tanaman yang baik. Begitupula seorang muslimah yang akan menjadi istri sholihah harus mendapatkan asupan ilmu yang cukup dan baik.

Jika ada seseorang yang mempunyai keinginan untuk menikah, maka harus dilihat apakah persyaratanya untuk menikah sudah terpenuhi atau belum. Tujuan menikah adalah membentuk keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah, maka untuk menikah ada persyaratan yang harus dipenuhi. Karena sesungguhnya keinginan untuk menikah adalah keinginan naluriah yang diberikan Allah tidak hanya kepada manusia melainkan juga dimiliki oleh hewan dan tumbuhan. Jika manusia hanya mengikuti hawa nafsunya maka tidak ada bedanya dong sama hewan???. Makannya sebelum seseorang menikah harus mempunyai SIM (surat izin menikah, red.syaratnya terpenuhi).
Rasulullah SAW memberikan tausiyah kepada kaum pemuda, beliau bersabda,” wahai pemuda yang sudah mampu (maristato’a) maka menikahlah, karena jika kalian sudah mampu dan menikah maka menikah itu mampu menundukkan pandangan dan dapat lebih menjaga kemaluan (farji). Barangsiapa yang di antara kalian yang belum mampu maka hendaklah berpuasa “.(HR Bukhari Muslim)

Keinginan untuk sengaja melajang adalah keadaan yang sangat buruk, dan kematian saat melajang adalah seburuk-buruk kematian. Rasulullah bersabda,”Orang yang paling buruk diantara kamu adalah para pembujang dan di antara orang-orang mati yang buruk adalah orang yang matinya dalam keadaan membujang.” (HR….) -> tadi nggak dengerin siapa perawinya

Rasulullah SAW bersabda,”Lazimnya wanita dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunan (nasabnya), karena kecantikannya, karena agamanya, maka pilihlah wanita itu karena agama, jika tidak maka binasahlah engkau.” (HR Bukhori Muslim)

Umumnya manusia (red. laki-laki) akan menempatkan agama pada pilihan terakhir, dan menempatkan tiga kriteria yang sebelumnya, maka dalam akhir hadist ini, Rasulullah menegaskan agar memilih karena agamanya, jika tidak karena agamanya maka engkau akan binasah (didunia saja binasah, bagimana di akhirat??? nah loh hati-hati cinta buta uy…. ) Dalam konteks inilah dituntut adanya kejujuran pada saat akan memilih atau menawar untuk melamar, maka harus benar-benar memilih dengan hati-hati, dengan istisyaroh dan istikhoroh terlebih dahulu. Biasanya sih kata ustadz kalau laki-laki yang pertama dilihat saat memilih adalah fotonya (gak apa-apa sih), tapi setelah itu harus mengutamakan agamanya loh, cek agamanya. Percumakan kalau cantik tapi aagamnya minus atau kurang 😛

Rasulullah bersabda,” Jika datang kepadamu orang yang engkau akan ridho Ad Dhien dan akhlaknya maka nikahkanlah denganya, jika kamu tidak menerimanya maka niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan yang luas (HR At Tirmidzi).

“mu” dalam konteks ini adalah untuk walinya, maka disinilah tanggung jawab seorang wali sangat besar dalam menerima atau menolak pinangan untuk anaknya. Agar seorang wali ridho terhadap agama dan akhlak yang melamar anaknya, maka harus benar-benar faham siapa orang yang melamar itu (harus cari tahu dulu tentang laki-laki itu, red. cari info dari orang-orang terdekatnya atau orang-orang yang sehari-hari bersamanya dengan catatan orang yang dimintai informasi adalah orang yang amanah). Hanya dalam kenyataanya tidak banyak wali yang faham tentang ad dhien dan akhlak yang seharusnya, maka terkadang perlu dijembatani murabi dan murabiyahnya, atau orang lain yang amanah.

Proses saat bertemu, dalam hal ini jalan dan situasi adalah sebagai penentuan awal, jika jalannya baik maka insyaAllah itu adalah awal yang baik. Namun jika dari awal saja prosesnya sudah mlenceng tidak sesuai syaria’at maka bisa menjadi bumerang untuk kedepannya. Harus sangat dijaga untuk tahap atau proses selanjutnya tetap dalam koridor syari’at (akan terasa betapa indahnya ketika awal, tengah dan akhirnya terjaga dalam bingkai syari’at Islam, dari proses dampai halal).

Wanita yang baik harusnya bertanya saat proses ta’aruf, memilih saya teh karena apa?
Jika ingin bahagia maka makna ad dhien dan akhlak harus benar-benar difahami, dan dijadikan tolak ukur utama dalam menghadapi pernikahan.

Adanya kecenderungan itu boleh tapi syaratnya adalah setelah benar-benar siap, yaitu saat benar-benar faham. Jika hanya sekedar kecenderuangan namun tidak siap, maka perasaan itu harus dibunuh karena itu adalah hasutan syetan loh….
Kalau sudah ada kecenderungan kemudian berdo’a, nah berdo’anya itu jangan memaksa Allah (pokoknya harus sama dia ya Allah, sama dia….pokoknya sama dia)….. XXXXX tetotttt
Berdo’anya itu harus netral,”Ya Allah jika dia mendekatkan dengan rahmat-Mu, maka dekatkanlah, namun jika dengan dia justru menjauhkan rahmat-Mu, maka jauhkanlah”. Ikhlaskan dan kembalikan pada Allah semata.

Tahap seorang muslimah untuk menjadi seorang istri
1. Ta’aruf (tahap saling mengenal)
2. Khitbah
3. Menikah

Studi kasus
1.Saat ada seorang ikhwan yang sudah siap kemudian dia sudah nadhor (melihat) dan menelusuri ad dhien seorang akhwat, ikhwannya sudah siap namun akhwatnya belum merasa siap (dalam hal ini belum faham secara utuh). Sebelum akad maka semuanya harus terselesaikan, dalam hal ini pemahaman itu harus dipenuhi selama proses sebelum akad. Dalam hal ini akhwat yang baik tidak boleh langsung menjawab iya atau tidak, dalam hal ini akhwat tersebut harus mengevaluasi dirinya sendiri tentang akhlaknya, dan mencari pegangan tentang ad dhien ikhwan tersebut sampai benar-benar yakin tentang ad dhien dan akhlaknya. Sampai adanya ketenangan, dalam hal ini yang jadi pegangan adalah pertenggung jawaban tentang ad dhien dan akhlaknya

2.Saat ada seorang akhwat yang sudah siap kemudian dia mengajukan diri kepada ikhwan yang belum siap, maka sama seperti kasus di atas, ikhwan tersebut harus memberi kesmpatan untuk menyiapkan dirinya dalam hal ini berkaitan dengan ad dhien dan akhlaknya.

3.Jika ada 2 ikhwan yang baik ad dhiennya maka harus pilih yang mana? “Pilihlah diantara yang terbaik”
Dalam hal ini proses memilih yang baik adalah melalui istisyaroh dan istikharah. Istisyaroh adalah proses meminta pendapat kepada orang lain yang amanah. Orang yang dimintai pendapat haruslah orang yang benar-benar faham dan dapat dipercaya, orang yang saat memberikan pertimbangan difikirkan dengan baik karena dia ikut bertanggung jawab. Jika dari proses istisyaroh dua-dua baik, maka istikharahlah untuk mencari kemantapan.

4. Bagimana memahamkan orang tua? karena boleh jadi kan orang tua kita nggak semuanya faham.
Harus memahami dengan baik materi birullwalidain (menjadi anak yang sholihah, mendakwahi orang tua dengan ma’ruf). Mulai dari sekarang harus mulai menyampaikan kepada orang tua, sedikit demi sedikit. Bicarakan dengan baik, jangan mengorbakan orang tua dan jangan menjadi korban.

5. Bolehkah orang tua untuk memaksakan anaknya untuk menikah?
Orang tua tidak boleh memaksa seorang anak untuk menikah, anak itu mempunyai hak untuk memilih dan dipilih. Bahkan dalam hal khitbah, orang tua harus meminta persetujuan seorang anak, begitu pula saat akad.Kan yang mau menikah anaknya toh, yang akan menjalani juga anaknya.

Khitbah adalah batas seorang ikhwan dan akhwat untuk berta’aruf. Jika ada seorang akhwat yang sudah dikhitbah maka tidak boleh ada ikhwan lain yang ikut menghitbah, demikian sebaliknya. Namun jika belum dikhitbah maka boleh seorang akhwat atau ikhwan diminati oleh satu atau lebih ikhwan dan akhwat. Catatan tidak boleh memberikan lampu hijau kepada salah satunya, makanya sebelum khitbah tidak boleh ada perlakuan yang istimewah, harus netral. Saat sudah khitbah berlaku 2 hal, yaitu yang pertama masing-masing tidak boleh mencari akternatif lain, yang kedua, sudah boleh berkomunikasi secara khusus namun masih dalam bingkai syariat Islam, dalam rangka memantapkan sampai akad. Kalau belom khitbah nggak boleh yah smsan. Saat sudah khitbah maka ikhwan dan akhwat punya power yang sama untuk menentukan akan berlanjut atau tidak, dalam hal ini khitbah masih bisa putus. Namun sesudah akad, power ihwan sebagai suami lebih besar terhadap istri dalam menentukan akan lanjut atau tidak, hal ini brekaitan dengan hukum perceraian dan talak.

Menikah bukanlah pekerjaan sehari dua hari, tapi sehari untuk selamanya, tidak hanya di dunia saja tapi dibawa sampai ke akhirat, maka harus dipertimbangkan dengan baik dan tidak tregesa-gesa. Menikah itu merubah sesuatu yang tadinya bernilai maksiat menjadi ibadah, mengubah yang tadinya haram menjadi halal, so…. menikahlah kalau udah mampu.

###belum_di_edit

Categories: Catatan | Leave a comment

Jalan Terus

Hidup memang tak semudah
Waktu kita muda dulu
Panas dingin tak bisa diterka
Strategi hidup bertahan
Dari seleksi Sang Alam

Hidup memang tak seindah
Waktu kita muda dulu
Umur terindah pasti kan berlalu
Strategi hidup bertahan
Dari seleksi sang alam

Panas dingin tak bisa diterka 2x
Tapi apapun yang terjadi akan ku jalani
Akan kuhadapi dengan segenap hati
Walau ku terluka memang ku terluka
Tak pernah ku lari dari semua ini

Interlude

Belum waktunya kita berhenti
Jangan cepat puas kawan
Bekerja dan terus bekerja
Hingga saat kita tak berguna lagi

(Sheila On 7)

***

Lagunya keren banget dah, hakikat hidup memang tidak ada yang mudah, semua adalah tentang bagaimana kita mencoba bertahan (survive) dengan aneka macam kondisi dan situasi. Sesulit apapun yang dirasakan sekarang teruslah berjalan dan mencoba untuk bertahan dari seleksi kehidupan yang berat.

Ibarat pelatihan Jungle Survival bukan hanya logistik yang harus kita siapkan dalam menghadapi tantangan alam, tapi strategi dan skill pun harus kita miliki untuk bisa terus bertahan hidup dalam situasi dan kondisi yang sulit.

Seseorang yang membawa korek api tidak akan bisa membuat api unggun, jika ia tidak tahu bagimana caranya menyalakan api pada kayu yang basah. Dan seseorang yang membawa tenda tidak akan bisa menikmati tidur di dalamnya jika ia tidak tahu bagaimana cara mendirikan tenda.

So, kalau mau bertahan hidup jangan hanya penuhi logistik saja, namun penuhi juga ketrampilah mengolah diri, ketrampilan menyesuaikan dengan lingkungan dan kondisi baru. Jadikan semua proses yang kita lalui sebagai bekal pengalaman. Saatnya keluar dari zona nyaman yang damai dan aman, cobalah melangkahkan kaki keluar, ke tempat yang lebih jauh. Rasakan apa yang ada di lingkungan kita, nimkati betapa hidup itu memang tak mudah.

Semangat semangat dan semangat,berhenti hanya akan membuat kita kalah, maka teruslah berjalan ke depan, hadapi saja apa yang harus dihadapi, nikmati setiap tanjakan, turunan dan tikungan maka kau akan sampai pada “GOal”.

Categories: Coret-coret | Leave a comment

Menunggu Ayah Datang

Wajahnya terlihat manis namun entah kenapa aku seperti melihat ada mendung kelabu yang menggantung disana. Ia hanya duduk terdiam sendiri, wajahnya menunduk terus memandang ke bawah, tangan kecilnya lincah memilin-milin ujung jilbab birunya. Hadirku yang berjarak kurang dari 1 meter bahkan tak ia sadari. Semenjak tadi ia di sibukkan dengan fikirannya dan aku pun ikut terdiam menatapnya, hingga fikirnku pun jauh melayang membayangkan semua kemungkinan tentangnya.

Lama hening di antara aku dan dia, sampai akhirnya kesadaranku kembali menapak di bumi, dan sebuah kata sukses meluncur dari mulutku,
“Adik manis sedang apa disini dan kenapa hanya sendirian?” tanyaku lembut, wajahnya terangkat menatapku sendu dengan tatapan yang sulit untuk ku artikan.
“Kakak siapa? sejak kapan kakak ada disitu?” alih-alih menjawab pertanyaanku, ia justru balik bertanya.
“Kau boleh memanggilku kak Ri, dan aku seudah beberapa lama berdiri disini”, ku ulurkan tangan tanda permintaan sebuah perkenalan.
“Namaku Kiara, dan kakak boleh memanggilku Ara” jawabnya seraya menyambut uluran tanganku dan menyunggingkan sebuah senyuman yang menenangkan.
“Ara, sedari tadi kakak perhatikan kamu terus menerus duduk disini sendiri, ah salah… bahkan kakak hampir melihatmu setiap hari duduk disini di jam yang sama, adakah yang sedang kau tunggu?” tanyaku, seraya beranjak mengambil tempat untuk duduk disebelahnya.

Senyum yang sempat terukir indah, perlahan tapi pasti menghilang dan wajahnya seketika tertunduk mengembalikan awan kelabu itu ke tempatnya semula.
“Ara sedang menunggu ayah kak?” jawabnya dangan nada yang bisa ku artikan syarat akan kesedihan.
“Memangnya ayah kemana?”tanyaku
“Entahlah Ara juga tidak tahu kak, ibu selalu menyuruh Ara menunggu ayah disini. Kata ibu kalau Ara mau menunggu disini dan membacakan do’a, maka ayah akan datang menjemput Ara untuk pulang”.
“Memangnya sudah berapa lama ayah Ara pergi?”tanyaku lagi
“Ayah sudah cukup lama pergi kak, seingat Ara hari itu adalah hari yang sangat menyenangkan karena banyak orang yang datang ke rumah, mereka memasang bendera-bendera di gang dan jalan-jalan dekat rumah. Ara lihat ayah sedang tertidur dengan tenang, wajah ayah terlihat sangat tenang dan sepertinya tersenyum pada Ara,hmmm… mungkin ayah sedang bermimpi indah. Setelah itu mereka menutup wajah ayah dengan kain berwarna putih dan membawa ayah pergi dengan tandu, pasti ayah senang karena bisa naik tandu, Ara jadi ingin ikut ayah.” seketika suaranya terhenti
“Kakak, hari itu Ara senang karena bisa lihat ayah tersenyum, tapi setelahnya Ara sedih karena ayah tak pernah pulang lagi. Mereka membawa ayah pergi ketempat yang Ara tak pernah tahu”. Air matanya telah jatuh sempurna membasahi pipinya.

Aku bingung, tapi aku bisa menebak bahwa ayahnya telah meninggal, tapi yang jadi pertanyaanku kenapa setiap hari ia terduduk didepan tanah makam ini. Kenapa ibunya menyuruhnya untuk duduk disini, setiap hari. Kenapa dan kenapa?

Setelah hari itu aku masih sering menjumpainya disana, hampir empat sampai lima kali aku bercakap-cakap dengannya, bercerita banyak hal, menemaninya duduk didepan gundukan tanah, hingga tiba waktunya pulang saat menjelang magrib datang.

Namun hari ini aku tak melihatnya lagi terduduk disini, bisa kupastikan bahwa gadis kecil berusia 6 tahun itu tak akan datang, ia benar-benar tak akan datang lagi dan duduk disini. Gadis kecil itu pasti kini tengah tersenyum bahagia bersama ayahnya, karena mereka telah tinggal bersama. Gadis kecil itu kini terbaring di samping makam ayahnya menjadi sebuah gundukan tanah berukuran lebih kecil. Ara telah pulang bersama ayahnya menghadap Illahi.

***End***

Categories: Fiksi | 2 Comments

Cerita Tentang Kita

Tis’atul Muharrik, Sembilan Penggerak

Cooming soon……hohoho

Categories: Uncategorized | 2 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.